Sunday, 07 Mar 2021

Terkait Pajak Murah, Tesla Memilih Bangun Pabrik Mobil Listrik di India Dibandingkan di Indonesia

news24xx


Foto : Liputan6Foto : Liputan6

NEWS24.CO.ID - Produsen mobil listrik milik Elon Musk Tesla Inc. memilih India sebagai basis produksi keduanya di Asia. Saat ini, Tesla sudah mendekati tahap akhir untuk mencapai kesepakatan produksi mobil listrik di India Selatan, Karnataka.

Jika kesepakatan antara Elon Musk dan Pemerintah India ini berhasil, maka Tesla akan memiliki tiga basis produksi mobil listrik, yakni di Amerika Serikat, China, dan India. Kabar bahwa Tesla akan membangun pabrik di India menimbulkan pertanyaan tentang nasib negosiasi dengan pemerintah Indonesia. Pasalnya, Tesla sudah mengirimkan proposal minat investasi kepada pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Penanaman Modal, Luhut Binsar Pandjaitan.



Read More : Terungkap, Bill Gates Lebih Memilih Android Dibanding iPhone, Kenapa?

Deputi Bidang Koordinasi Penanaman Modal dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Penanaman Modal, Septian Hario Seto akhirnya berkomentar, meski enggan menjelaskan lebih lanjut.

"Mohon maaf ada non disclosure agreement (kesepakatan yang tidak bisa dibuka ke publik). Tidak ada yang bisa diungkapkan," ujarnya seperti dilansir dari VOI, Kamis, 18 Februari.

Sayangnya, pernyataan Seto di atas tidak menjawab apakah rencana investasi Tesla di Indonesia dibatalkan, dengan adanya kabar bahwa perusahaan mobil listrik milik Elon Musk memilih India untuk produksi mobil listrik.

Lalu apa yang membuat India lebih menarik daripada Indonesia untuk investasi?

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad mengatakan ada beberapa hal yang membuat India lebih diminati untuk menjadi negara tujuan investasi dibanding Indonesia.

1. India menawarkan pajak murah bagi investor asing
Tauhid menuturkan, India memiliki kebijakan pajak yang murah untuk menarik investasi ke negaranya. Sedangkan di Indonesia belum ada kebijakan seperti itu. Apalagi, Tesla juga telah menjalin kerja sama dengan perusahaan India yang berbasis di Amsterdam.

"India punya rezim pajak yang lebih bersahabat dengan investor asing. Jadi India bisa menawarkan pajak yang lebih murah. Saya kira ini hal pertama yang akan saya dapatkan jika Tesla (membangun pabrik) di India," ujarnya.

2. Memiliki tenaga ahli di berbagai bidang
Tauhid menuturkan, India memang memiliki pasar yang besar. Namun menurutnya, hal tersebut juga dimiliki oleh Indonesia. Namun India memiliki banyak tenaga ahli di berbagai bidang yang jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan Indonesia.

“India punya tenaga ahli yang berkaitan dengan teknologi informasi, ahli di bidang mobil listrik, memang jauh lebih banyak ahli dari kita. Saya melihat ini (alasan) India memiliki peluang lebih besar (menarik Tesla untuk berinvestasi). Padahal kita punya mentah bahan dan sebagainya, ”terangnya.

Meski Indonesia memiliki bahan baku pembuatan mobil listrik, India menawarkan sesuatu yang berbeda dengan Indonesia. Kata Tauhid, inilah alasan Elon Musk memilih India.

3. Perekonomian India pulih lebih cepat dari COVID-19
Tauhid menjelaskan, seperti negara lain, perekonomian India juga terkena dampak pandemi COVID-19. Namun, recovery atau pemulihan ekonomi lebih cepat dari Indonesia.

“Saya kira itu rekornya. Proyeksi pertumbuhan 7 persen pada 2021 itu yang terbaik. Karena sekarang penurunan COVID-19 jauh lebih cepat dari kita. Padahal angka COVID-19 mereka lebih tinggi,” ujarnya.

Tesla tidak tertarik membangun pabrik baterai di Indonesia
Sebelumnya, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengungkapkan Tesla ingin mengembangkan energy storage system (ESS) atau alias sistem penyimpanan energi.

"Tesla tertarik pada penyimpanan energi, bukan pada aki kendaraan listrik," ujarnya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII, Selasa, 9 Februari.



Read More : Dengan Harga Rp 2 Juta, Anda Bisa Mendapatkan Xiaomi Redmi 9T Dengan Baterai Jumbo 6.000 MAh

Nicke mengatakan ketertarikan Tesla mengembangkan ESS dalam negeri karena adanya rencana penambahan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) secara massal di Indonesia. Dengan PLTS yang semakin masif, pasokan listrik ke ESS akan semakin bisa diandalkan, sehingga dinilai menjadi bisnis yang menarik bagi Tesla.

“Dia (Tesla) datang ke Indonesia melihat potensi untuk menjaga keandalan pasokan dari PLTS ESS ini, ini pasar yang besar,” ucapnya.

Hal tersebut sejalan dengan yang disampaikan Septian Hario Seto, pada 5 Februari lalu mengatakan proposal rencana investasi yang ditawarkan Tesla berbeda dengan calon mitra lainnya, yakni perusahaan asal China, CATL, dan perusahaan asal Korea Selatan, LG . Ia mengatakan perbedaan ini karena teknologi dasar yang digunakan Tesla berbeda dengan dua perusahaan lainnya.

Menurut Seto, Tesla kemungkinan akan berinvestasi di sektor sistem penyimpanan energi (ESS). ESS ini ibarat 'powerbank' dengan baterai raksasa berskala besar yang mampu menyimpan daya listrik hingga puluhan mega watt, bahkan hingga 100 MW untuk stabilisator atau sebagai pengganti sebagai peaker generator (penyangga beban puncak).

Lebih lanjut Seto menjelaskan, pada malam hari saat konsumsi listrik masyarakat sedang tinggi, bisa memanfaatkan ESS ini. Selain itu, Tesla mengatakan Indonesia yang merupakan negara kepulauan memiliki potensi untuk menggabungkan energi baru dan terbarukan dengan teknologi ESS ini.

“Mereka bilang dari sisi demand dengan negara lain sudah sangat tinggi, tapi supply ESS tidak banyak. Kalau mau kerja sama dengan Indonesia dengan negara kepulauan dengan potensi EBT bisa menggabungkan teknologi ESS di Indonesia, "kata Seto.





Loading...