Wednesday, 28 Jul 2021

Cegah Penyebaran COVID-19, Ahli Epidemiologi Minta Masyarakat Hentikan Sementara Aktivitas yang Tidak Penting

news24xx


Foto : VOIFoto : VOI

NEWS24.CO.ID - Ketua Pengembangan Keprofesian Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane menyarankan agar masyarakat menghentikan sementara kegiatan yang tidak perlu, guna menekan lonjakan kasus COVID-19 di Tanah Air.

Masdalina dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis 17 Juni menjelaskan, lonjakan pasien terpajan COVID-19 dalam 10 hari terakhir memiliki tingkat mutasi yang relatif lebih tinggi dibandingkan varian eksitasi pada 2020. mobilitas lebih lanjut, terutama bulan depan umat Islam akan merayakan Idul Adha.

Pengetatan lebih lanjut dilakukan untuk mencegah lonjakan yang lebih besar," kata Masdalina seperti dikutip Antara.


Read More : Komnas HAM Kutuk Prajurit yang Menginjak Kepala Orang Papua

Menurutnya, virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 yang saat ini berkembang adalah varian Delta 1617.2 yang berasal dari India. Penyebarannya lebih cepat meskipun virulensi atau keganasannya relatif lebih rendah.

Julukan Masda-Masdali Na, menegaskan varian ini telah mendorong hampir empat provinsi di Pulau Jawa kembali masuk zona merah. Sementara untuk wilayah Bali tidak ada lonjakan, namun berdasarkan temuan terbaru pada orang yang meninggal akibat COVID-19 ternyata disebabkan oleh varian B.1.351 asal Afrika Selatan.

"Perbedaannya, varian dari Afrika Selatan memiliki virulensi atau keganasan yang tinggi, tetapi tidak cepat menyebar. Jadi begitu orang terpapar varian Afrika dalam waktu tiga hari, mereka bisa langsung mati," katanya.

Masda mengatakan, banyak daerah di Pulau Jawa yang kini menjadi episentrum, seperti di Kudus, Bandung, dan Jakarta.

Meski tidak semua daerah di satu provinsi menunjukkan gejala. Masda melanjutkan, data Gugus Tugas Covid-19 secara agregat menunjukkan DKI Jakarta meningkat 400 persen, Depok 305 persen, Bekasi 500 persen, Jawa Tengah 898 persen, dan Jawa Barat 104 persen. -19 bukan dampak mudik Lebaran.



Read More : Indonesia Akan Buka Rumah Oksigen Gotong Royong Bulan Agustus 2021

Lonjakan tersebut sebenarnya terjadi karena kegagalan deterrence yang mengakibatkan masuknya varian India dan Afrika ke Indonesia. Padahal, seharusnya 14 hari berdasarkan ketentuan masa inkubasi optimal dan ini sudah menjadi standar organisasi kesehatan dunia (WHO),” katanya.

Masda juga mengatakan lonjakan ini mengindikasikan penularan lokal. Artinya, Sebagian besar masyarakat terdampak COVID-19 tidak bepergian ke luar negeri, melainkan terkena varian baru.“Ini menandakan telah terjadi transmisi lokal, sehingga menjadi 'new emerging disease' di Indonesia," kata Masda.

Masda mengapresiasi pemerintah melalui kepolisian telah berhasil menekan mobilitas penduduk selama masa Idul Fitri.

Dari angka 35 juta yang biasanya hanya 1,5 juta orang yang mudik. Kemenkes, mengajak masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dengan menerapkan 3M. Terutama menghindari keramaian, baik dalam kegiatan sosial untuk masyarakat biasa maupun kegiatan olahraga dalam waktu dekat. pada masa inkubasi, hingga lonjakan ini dapat ditekan.

Oleh karena itu, tugas pemerintah adalah memastikan penerapan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 4641 tentang pengujian, penelusuran, isolasi, dan karantina lebih ketat," kata Masda.





Loading...