Wednesday, 17 Jul 2019

Indonesia Akan Meregulasi Impor Setelah Kontroversi Ekspor Sampah

news24xx


Foto : InternetFoto : Internet

NEWS24.CO.ID - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia (KLHK) baru-baru ini berbicara tentang pencegahan yang diperlukan untuk menghindari kasus-kasus penyelundupan limbah di masa depan setelah protes internasional terhadap ekspor limbah dari sejumlah negara Barat.

Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah Non-mematikan KLHK, Rosa Vivien Ratnawati menawarkan bahwa beberapa frasa dalam Keputusan Menteri Perdagangan No.31 / 2016 tentang impor limbah tidak-mematikan harus diulang.

"Ini termasuk mengusulkan untuk mengakui impor [memo kertas] dari rute hijau ke rute merah jika diimpor dalam jumlah besar," kata Rosa dalam pesan teks ke Tempo pada Minggu, 16 Juni. Ini secara langsung mengikuti beberapa kasus plastik limbah ditemukan terkandung dalam sejumlah impor potongan kertas ke Indonesia.

"Rute hijau" adalah kelonggaran peraturan untuk membongkar barang impor, yang melibatkan tidak melakukan pemeriksaan fisik pada barang yang diimpor tetapi melakukan pengawasan dengan penelitian dokumen setelah barang telah mendapatkan persetujuan penerbitan.

Sementara itu, "rute merah" sangat melibatkan melakukan pemeriksaan fisik dan dokumen pada barang impor sebelum izin untuk membongkar disetujui.

“Kami juga akan membangun mekanisme penegakan hukum bagi mereka yang terbukti bertanggung jawab dalam mengimpor limbah,” kata Rosa. Namun, solusi jangka pendek langsung Kementerian adalah mengekspor kembali sampah bekas dan plastik impor yang mengandung sampah.

Sampai sekarang, Indonesia mengikuti jejak negara-negara Asia lainnya yang menolak dianggap sebagai tempat pembuangan negara-negara Barat dengan mengembalikan lima kontainer milik Kanada kembali ke Seattle, Amerika Serikat yang berisi sampah. Wadah tidak hanya berisi potongan kertas tetapi limbah rumah tangga seperti botol, sampah plastik, dan popok.

 

 

 

NEWS24.CO.ID/RED