Sunday, 21 Apr 2019

Pemerintah Indonesia Berharap Pada Studi Internasional yang Mendukung Minyak Sawit

news24xx


Minyak SawitMinyak Sawit

NEWS24.CO.ID - Penelitian yang mempertanyakan klaim bahwa minyak sawit merusak lingkungan dibandingkan dengan minyak nabati lainnya akan mendorong upaya pemerintah untuk mempertahankan salah satu komoditas utama negara itu dari kampanye negatif. Studi ini diterbitkan pada bulan Juni oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), sebuah yayasan konservasi global yang berbasis di Swiss. Menurut penelitian, kelapa sawit adalah pabrik penghasil minyak paling efisien di dunia karena membutuhkan lahan yang jauh lebih sedikit daripada tanaman sejenis.

"Studi ini menemukan bahwa [kelapa sawit] hanya membutuhkan 0,26 hektar lahan untuk menghasilkan 1 ton minyak sawit," kata Menteri Koordinator Ekonomi Darmin Nasution dalam jumpa pers bersama dengan yayasan di Jakarta baru-baru ini.

"Penggunaan lahan ini jauh lebih rendah dari yang dibutuhkan untuk menghasilkan minyak lobak, minyak bunga matahari atau minyak kedelai."

Dalam studi tersebut, IUCN menemukan bahwa produksi 1 ton minyak lobak membutuhkan 1,25 hektar, sedangkan 1 ton minyak bunga matahari dan 1 ton minyak kedelai masing-masing membutuhkan 1,43 hektar dan 2 hektar. Peneliti IUCN, Erik Meijaard, yang memimpin penelitian ini, mengatakan bukti dalam temuannya membuktikan bahwa kelapa sawit akan memainkan peran utama dalam memenuhi meningkatnya permintaan global akan minyak nabati, yang diproyeksikan mencapai 310 juta ton pada tahun 2050.

Sementara itu, katanya, produksi minyak nabati global saat ini hanya sebesar 165 juta ton.

"Saya pikir negara-negara di seluruh dunia perlu berhati-hati dalam melarang penggunaan minyak sawit karena jika kita melakukannya, kita akan membutuhkan lebih banyak lahan di daerah lain untuk memenuhi meningkatnya permintaan minyak di masa depan," katanya.

Dia menambahkan bahwa meningkatnya kebutuhan akan tanah akan menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada ekosistem dan keanekaragaman hayati dunia. Studi ini juga berpendapat bahwa kelapa sawit telah membantu Indonesia dan negara-negara produsen lainnya dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB. Tujuannya adalah mengakhiri kemiskinan, menyediakan air bersih, menciptakan kegiatan ekonomi, memproduksi dan mengkonsumsi secara bertanggung jawab, serta membatasi perubahan iklim dan mempromosikan pemerintahan yang stabil, katanya.

Darmin mengatakan studi ini bisa menjadi alat ilmiah untuk melawan kampanye hitam terhadap minyak sawit.

Demikian pula, Ketua Organisasi Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan studi ini diharapkan akan menciptakan pemahaman di antara mereka yang mencela minyak kelapa sawit sebagai sumber utama deforestasi di dunia.

"Dengan studi ilmiah ini, kami berharap bahwa kami dapat melanjutkan upaya kami untuk bernegosiasi dengan Uni Eropa [Uni Eropa] tentang masalah ini," katanya.

Dalam revisi Directive Energy Directive (RED) II tahun lalu, Parlemen Eropa memutuskan untuk menghapus minyak kelapa sawit mentah (CPO) dari sumber biofuel dan bioliquid mulai tahun 2021, dengan mengatakan bahwa tanaman memainkan peran utama dalam menyebabkan deforestasi dan mengancam. keanekaragaman hayati dunia.

Arahan tersebut menyebabkan kegemparan di antara produsen minyak sawit utama, termasuk Indonesia, karena dianggap “diskriminatif” dan dapat merugikan ekspor CPO, mengingat bahwa UE adalah salah satu konsumen minyak kelapa sawit terbesar di dunia pada tahun 2016 menurut European Palm Oil Alliance ( EPOA).

Meskipun Uni Eropa awalnya berencana untuk mulai menerapkan RED II di setiap negara anggota UE pada bulan Februari, itu belum membuatnya resmi karena alasan yang tidak diungkapkan.

"Ada spekulasi bahwa implementasi RED II yang tertunda adalah hasil dari perkembangan baru seputar minyak sawit," kata Mahendra Siregar, direktur eksekutif Dewan Negara-Negara Produsen Minyak Sawit (CPOPC).

Dia, bagaimanapun, mengatakan bahwa jika UE secara resmi menerapkan arahan, dewan akan menantangnya di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Sementara studinya mendukung minyak kelapa sawit, Meijaard mengatakan dia tidak menyangkal fakta bahwa tanaman itu jelas memainkan peran dalam deforestasi seperti yang diklaim oleh UE. Untuk mengurangi dampaknya terhadap ekosistem dan keanekaragaman hayati, ia menyarankan agar pemerintah, termasuk Indonesia, memetakan perkebunan kelapa sawit secara komprehensif.

"Pemerintah juga harus membuat peta komprehensif tentang campuran tanaman apa yang harus ditanam untuk memenuhi permintaan minyak nabati yang meningkat," katanya.

 

 

 

NEWS24.CO.ID/RED/DEV