Wednesday, 23 Sep 2020

Sepasang Anaknya Ditangkap, Induk Harimau Terus Muncul Di Pemukiman Warga Gantung Ciri Solok Sumbar

news24xx


harimau masuk perangkap BKSDA di Nagari gantung ciri Solok/langgamharimau masuk perangkap BKSDA di Nagari gantung ciri Solok/langgam

NEWS24.CO.ID -Sepasang anak harimau yang sebelumnya berhasil ditangkap, ternyata membuat induknya terus mencari keberadaan anaknya tersebut. Seekor harimau dilaporkan masih sering muncul di Nagari Gantung Ciri, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sumatra Barat (Sumbar). Diduga, harimau tersebut merupakan induk dari dua ekor anak harimau yang ditangkap beberapa waktu lalu, yang diberi nama Putra Singgulung dan Putri Singgulung.

Atas kejadian itu, Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) masih memasang perangkap untuk menangkap Harimau Sumatera yang kerap muncul tersebut dan bertemu dengan warga yang berkebun di sekitar daerah Gantung Ciri.



Read More : Pecah Rekor Tertinggi, Sehari Bertambah 4.465 Orang, Kasus Positif Corona di Indonesia Tembus 257.388


Kepala BKSDA Kabupaten Solok, Afrilius mengatakan, perangkap tetap dipasang di lokasi tersebut karena warga yang berkebun masih bertemu dengan harimau. Harimau itu diduga induk dari dua ekor harimau yang telah ditangkap sebelumnya.

“Pemasangan perangkap masih dilakukan, mengingat induknya masih sering berjumpa dengan warga yang sedang memanen cengkeh, kita mengamanankan kegiatan ekonomi warga,” ujarnya, Kamis (6/8/2020).

Menurut Afrilius, di lokasi tersebut terdapat kebun warga seperti cengkeh dan lainnya. Pemasangan perangkap dilakukan untuk memberikan rasa aman terhadap warga yang saat ini sedang memasuki masa panen cengkeh.

Penanganan harimau ini, katanya, telah dilakukan sejak awal Juni 2020. Menurutnya, penanganan konflik dengan satwa yang sedang menyapih anaknya memang membutuhkan waktu lama.


Read More : Anggota DPRD Protes Satpol PP Memborgol Tangan Warga yang Tak Pakai Masker

 

“Sudah tiga bulan kita tangani, baik kita dari BKSDA Sumbar maupun masyarakat perlu kesabaran dan berusaha hidup berdampingan dengan satwa liar,” ungkapnya.

Lalu, BKSDA juga terus mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat soal penanganan konflik satwa liar serta terus memantau ke lokasi setiap hari.

Pemasangan perangkap akan terus dilakukan sampai pasca konflik, namun belum dapat dipastikan. BKSDA juga terkendala pendanaan dan juga menunggu arahan dari Kementerian Lingkungan Hidup.

“Saya mengimbau kepada masyarakat, khususnya yang berada di kawasan harimau, bahwa kita harus terbiasa hidup berdampingan dengan satwa liar, karena memang habitatnya di sana,” katanya (Langgam.id)





Loading...