Monday, 03 Oct 2022

Kenaikan Inflasi Tak Terelakkan Jika Pemerintah Naikkan Harga Bahan Bakar Minyak Bersubsidi

news24xx


Kenaikan Inflasi Tak Terelakkan Jika Pemerintah Naikkan Harga Bahan Bakar Minyak BersubsidiKenaikan Inflasi Tak Terelakkan Jika Pemerintah Naikkan Harga Bahan Bakar Minyak Bersubsidi
https://swastikaadvertising.com/

NEWS24.CO.ID Pemerintah Indonesia mengisyaratkan kemungkinan akan menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi setelah anggaran melonjak menjadi Rp502 triliun. Salah satu bahan bakar bersubsidi yang terkenal dijual oleh perusahaan energi negara Pertamina adalah Pertalite, yang saat ini dijual dengan harga Rp7.650 per liter dan kemungkinan akan meningkat menjadi Rp10.000 per liter. 

Menurut peneliti Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda, jika pemerintah memutuskan demikian, kemungkinan akan menyebabkan inflasi tumbuh lebih pesat lagi dan melampaui angka saat ini sebesar 4,94 persen.


Read More : Menteri Luhut Komentari Pembatalan Rencana Konversi Kompor Listrik

“Jika ada kenaikan maka akan mendorong inflasi lebih tinggi lagi. Bisa mencapai lebih dari 7 persen jika BBM Pertalite dinaikkan,” kata Nailul kepada Tempo , Kamis, 18 Agustus.

Sementara itu, Direktur Pusat Studi Ekonomi dan Hukum (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan masyarakat akan langsung terkena imbas kenaikan harga BBM. Hal ini, kata dia, dapat menurunkan daya beli masyarakat dan berpotensi memasukkan mereka ke dalam garis kemiskinan. 

Menurut Bima, saat ini ada lebih dari 11 juta pekerja yang kehilangan pekerjaan, dipotong jam kerja dan upah, serta di-PHK. Dikhawatirkan situasi akan semakin buruk dengan kenaikan harga BBM bersubsidi dan menyebabkan tekanan ekonomi semakin dalam pada 40 persen rumah tangga terbawah.

“Belum lagi ada 64 juta UMKM yang bergantung pada BBM bersubsidi. Karena saat ini pengguna BBM bersubsidi tidak hanya kendaraan pribadi, tapi juga kendaraan operasional UMKM,” kata Bima.



Read More : Waduh! Warga Cikini Korban Kebakaran Juga Kehilangan Motor Sebanyak 7 Unit

Nailul Huda menyarankan agar pemerintah tidak menaikkan harga BBM bersubsidi, perlu merealokasi anggaran yang tidak produktif dan anggaran pertahanan Indonesia, yang menurut Huda terlalu besar. 

Dia juga menyebut pengalihan anggaran besar untuk program food estate nasional dan pembangunan ibu kota baru proyek Nusantara untuk subsidi BBM. 

Selain itu, untuk menekan kenaikan inflasi, pemerintah melalui Bank Indonesia dapat menaikkan suku bunga acuan. Namun, menurut Huda, saat ini BI tampaknya masih berusaha menahan kurs saat ini meski nilai tukar rupiah melemah, di samping ambruknya anggaran subsidi minyak.





Loading...