Monday, 20 Sep 2021

Alasan Ilmuwan Indonesia Berkarir di Luar Negeri

news24xx


Foto : TempoFoto : Tempo
www.jualbuy.com

NEWS24.CO.ID - Sejumlah besar talenta potensial Indonesia di bidang teknologi informasi dan ilmuwan telah memilih untuk berkarir di luar negeri.

Inilah kenyataan yang harus dihadapi Indonesia.

Mengutip Bisnis.com, peneliti ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan informasi pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Indri Juwita Asmara berpendapat, ada sejumlah literatur yang mengungkap sejumlah faktor pendorong migrasi intelektual.

Diantaranya, Asmara menyebutkan potensi pendapatan yang lebih tinggi, kesempatan kerja, lingkungan kerja yang lebih baik, standar hidup yang lebih tinggi, dan ketersediaan fasilitas penelitian dan pengembangan.


Read More : Inilah Alasan Kenapa Nasi Padang yang Dibungkus Porsinya Lebih Banyak

Indri dan timnya pernah mengadakan penelitian terhadap para ilmuwan diaspora yang mengungkap dua faktor utama migrasi intelektual, yang meliputi daya tarik bekerja di luar negeri karena kualitas hidup dan fasilitas yang mendukung kegiatan penelitian dan persaingan global berdasarkan prestasi profesional.

Yang kedua adalah situasi di Indonesia yang telah mempengaruhi para ilmuwan diaspora untuk menjelajah di tempat lain seperti dikucilkan oleh sistem, birokrasi yang panjang dan berbelit-belit, dan rasa kurang dihargai oleh negaranya sendiri.

“Ada 60 persen ilmuwan diaspora yang setuju bahwa mereka tidak dihargai dan membuat mereka memutuskan untuk menjelajah ke luar negeri. Ketersediaan bidang ilmu, kebutuhan penelitian, pengetahuan yang lebih luas di bidang yang diminati, dan sumber pendanaan mencerminkan fasilitas yang tersedia di luar negeri,” ujar peneliti.

Secara umum, para ilmuwan mengincar negara-negara maju dengan dana penelitian tinggi dan sangat dibutuhkan industri, seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Jepang, Australia, dan Singapura.



Read More : 6 Pilihan Karir Dengan Peran Penting di Era Digital

“Meskipun faktor kuat mendorong mereka untuk bekerja di luar negeri, keinginan untuk kembali ke Indonesia tetap ada,” katanya, Bisnis.com melaporkan.

Ada beberapa faktor yang menurut Asmara dapat ditingkatkan di Indonesia seperti bagaimana menciptakan ekosistem positif untuk kegiatan penelitian dan inovasi melalui lembaga pemerintah, perguruan tinggi, dan swasta. Semua faktor tersebut harus melibatkan para ilmuwan sebagai bagian dari pembangunan negara.

Peneliti LIPI itu mengatakan, negara tidak hanya menghadapi masalah kehilangan talenta potensial, tetapi juga meracik cara yang akan mendorong mereka untuk berkontribusi bagi Indonesia di mana pun mereka berada secara geografis. Dia mencontohkan fenomena 'sirkulasi otak' yang terjadi di Silicon Valley Amerika Serikat yang melibatkan kontribusi dari 29 persen insinyur dari China dan India yang dia harapkan bisa dicapai Indonesia daripada menghadapi situasi 'brain drain' yang hanya menguntungkan satu negara. dari kontribusi para ilmuwan.

Dia juga menyebutkan Hsinchu Science Industrial Park Taiwan yang terletak di Taipei yang merupakan pusat pengembangan teknologi tinggi di industri mulai dari semikonduktor, komputer, telekomunikasi, dan optoelektronik. Sebagian besar perusahaan yang didirikan oleh Taiwan berasal dari warga yang menghabiskan masa akademis dan profesional mereka di sektor TI di Amerika Serikat dan negara maju lainnya.

“Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah dan swasta dalam negeri untuk meningkatkan peran ilmuwan diaspora bagi Indonesia,” ujar peneliti LIPI tersebut.





Loading...