Saturday, 04 Dec 2021

Osneti dan Anaknya Asal Padang Pariaman Selamat Dari Kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air SJ182

news24xx


Osneti (50) calon penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ182 gagal berangkat karena surat swab yang kadaluarsa. /IstOsneti (50) calon penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ182 gagal berangkat karena surat swab yang kadaluarsa. /Ist
www.jualbuy.com

NEWS24.CO.ID - Warga Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat (Sumbar) ini bersyukur karena tidak masuk menjadi korban kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ182 yang jatuh dari perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/1/2021). Ia bersama anaknya batal masuk dalam daftar manifes pesawat Sriwijaya Air. Perempuan yang bernama Osneti (50) dan anaknya ini gagal berangkat dikarenakan surat hasil tes antigen yang ia punya kadaluwarsa. 

Dalam keterangannya, Osneti berencana berangkat dari Padang Pariaman ke Pontianak. Ia berangkat bersama putranya Dodi (25) pada Rabu (6/1/2021) kemarin. 

Ia berencana pergi melihat acara pernikahan anak kakak atau keponakannya di Pontianak.

Sebelum berangkat ke Pontianak, cerita Osneti, ia dan anaknya singgah di Jakarta terlebih dahulu, mengunjungi keluarga lainnya di Jakarta.

"Dari Padang naik Batik Air, kita ke Jakarta dulu. Rencana kita, akan berangkat ke Pontianak bersama keluarga dari Jakarta," ujarnya, dikutip dari padangkita, Ahad (10/1/2021).

"Sebenarnya, acara pesta pernikahan hari Minggu ini (10/1/2021). Sebelum ke Pontianak, saya ke Jakarta dulu, baru sama-sama keluarga lainnya berangkat ke Pontianak," terang dia.

Ia menyebutkan, setelah memesan tiket dan datang ke Bandara Soekarno Hattta untuk tujuan ke Pontianak, ia tidak bisa ikut penerbangan, karena masa berlaku surat rapid tes yang dibawa sudah kadaluwarsa.

Surat hasil tes itu ia dapatkan saat sebelum berangkat dari Bandara Internasional Minang Kabau (BIM). Dan ia juga tidak menyadari bahwa hasil rapid tes itu hanya berlaku selama tiga hari sejak dites.

"Saya sama anak tes sebelum berangkat, berarti tanggal 6 Januari. Pas mau berangkat ke Pontianak, ternyata hasil tes saya ini tidak berlaku lagi, karena hanya berlaku tiga hari," ungkapnya.

Untuk rencana perjalanan ke Pontianak, ia menyebutkan, sudah berada di pintu keberangkatan Bandara Internasional Soekarno Hatta. Ia datang bersama anak dan dua orang keluarganya yang ada di Jakarta.

Ia menyebutkan juga pihak bandara menyarankan untuk tes swab. Akan tetapi karena hasil tes yang keluar dua hari, maka i,a, anaknya dan keluarga di Jakarta memutuskan untuk membatalkan keberangkatan.

"Dianjurkan tes swab, biayanya Rp800 ribu, waktu tunggu dia hari. Dan setelah tes swab, kata petugas baru bisa kita berangkat. Tapi, itu percuma saja, pestanya juga sudah usai," cerita Osneti.

Setelah batal berangkat, Osneti pun mengaku terkejut mendengar pesawat yang akan ia tumpangi itu hilang kontak di sekitar perairan Kepulauan Seribu.

"Saya kaget mengetahui pesawat itu hilang kontak. Ada hikmahnya tidak jadi berangkat. Saya sujud syukur dan menangis mengetahui peristiwa itu," tukas dia.

Meski tidak masuk dalam daftar penumpang, Osneti berharap semua penumpang Sriwijaya Air dapat ditemukan dalam keadaan selamat. 

Atas peristiwa itu, Osneti mengaku trauma untuk naik pesawat. Bahkan, Osneti mengatakan akan menetap untuk sementara waktu di Jakarta hingga cuaca normal.

"Belum tau lagi pulang ke Padang kapan, mungkin tiga hari ini. Pulangnya juga belum tahu naik apa," akhirinya. []

 





Loading...