Wednesday, 22 Jan 2020

142 Perusahan Bisnis Milik BUMN akan Dilebur Erick Thohir

news24xx


Menteri BUMN Erick Thohir. Menteri BUMN Erick Thohir.

NEWS24.CO.ID - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir masih terus lakukan misinya untuk bersih-bersih anak dan cucu milik perusahaan BUMN.

Erick mengakui bahwa menemukan temuan baru dan bukti bahwa PT Pertamina (Persero) memiliki 142 anak dan cucu perusahaan. Hal tersebut terungkap ketika dirinya melakukan rapat bulanan dengan perusahaan minyak dan gas pelat merah tersebut.

"Kemarin saya rapat dengan Pertamina, ternyata ada 142 perusahaan di Pertamina," ujar Erick Thohir ketika ditemui di Kantor Direktorat Jenderal Pajak di Jakarta, Jumat (13/12/2019).

Menteri BUMN meminta jajaran direksi dan komisaris Pertamina memetakan bisnis dari masing-masing entitas anak perusahaan tersebut.

Selain itu, dirinya juga meminta direksi dan komisaris untuk memeriksa kondisi kesehatan dari masing-masing perusahaan. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi keberadaan bisnis-bisnis yang justru merugikan perusahaan induk.

"Saya juga enggak mau nanti ternyata seperti saya bicara 142 perusahaan Pertamina hanya oknum-oknum yang akhirnya menggerogoti Pertamina. Nah, ini yang saya sudah minta laporan daripada direktur utama dan komisaris utama," jelas dia.

Menteri BUMN Erick Thohir berencana akan melebur bisnis-bisnis sampingan yang dimiliki oleh BUMN. Hal tersebut untuk menindaklanjuti temuan mengenai banyaknya BUMN yang memiliki anak dan cucu usaha yang berbeda dari bisnis inti.

Sebelumnya, Erick juga telah menemukan terdapat 85 hotel yang dimiliki BUMN. Namun, hotel tersebut bukan bagian dari BUMN perhotelan atau PT Hotel Indonesia Natour (Persero) (Inna Hotel Group).

"BUMN yang memiliki banyak bisnis hotel. Totalnya, ternyata ada 85 hotel dimiliki BUMN," ucap Erick pada Selasa (12/12).

Nantinya, bisnis-bisnis di luar bisnis inti perusahaan pelat merah bakal dilebur sehingga perusahaan yang bersangkutan bisa kembali menjalankan bisnis sesuai dengan inti bisnis yang mereka miliki.

"Kami ingin buat semua kembali ke bisnis inti masing-masing. Itu tetap mekanisme bisnis," ujar dia.

 





Loading...