Monday, 25 Mar 2019

Indonesia Melihat Penurunan Produksi Teh

news24xx


TehTeh

NEWS24.CO.ID -  Iriana Ekasari, Kepala Divisi Internal dan Luar Negeri Dewan Teh Indonesia, mengatakan produksi teh terus menurun sejak 2007. Salah satu alasannya adalah semakin berkurangnya area perkebunan karena konversi lahan dan gentrifikasi.

Menurut Iriana, tingkat pengurangan rata-rata lahan perkebunan teh adalah 3.000 hektar per tahun.

"Di Jawa Barat, dari 2014 hingga 2018, ada penurunan 5.600 hektar," katanya, Rabu, 13 Maret.

Menurut data Kementerian Pertanian, puncak produksi teh adalah pada tahun 2003 dengan 170.000 ton. Namun, pada 2012, produksi turun menjadi hanya 140.000 ton.

Penurunan produksi terus berlanjut dan pada 2016 dan 2017 hanya mencapai 139.000 ton.

Tidak hanya produksi, Iriana mengatakan permintaan ekspor untuk teh menjadi lesu. Tahun lalu, ekspor teh Indonesia mencapai 49.000 ton, turun lebih dari setengahnya dari tahun 2008 hampir 100.000 ton.

Meski ekspor turun, Iriana mengatakan konsumsi domestik naik. "Ini berarti bahwa industri teh sebenarnya memiliki pasar domestik. Tetapi nilai impor teh juga naik," katanya.

Hari ini, kata Iriana, teh impor dari Thailand dan Vietnam mendominasi pasar domestik. Pelanggan di Indonesia kebanyakan mengkonsumsi teh grade II atau lebih rendah. Untuk memenuhi permintaan, Indonesia mengimpor dari Vietnam karena harganya lebih murah.

"Kami mengimpor banyak teh murah, yaitu teh yang banyak digunakan oleh industri, meskipun produksi dalam negeri kami berlimpah," katanya.

Oleh karena itu, Iriana berharap pemerintah dapat melakukan intervensi agar industri nasional dapat bertahan. Salah satu caranya adalah dengan memprioritaskan produksi teh kelas II. Industri ini juga meminta revisi standar nasional Indonesia (SNI) ke konten minimum dalam teh siap minum, seperti apa yang telah diterapkan pada minuman jus dalam botol.

"Teh juga harus memiliki standar," kata Iriana.

 

 

 

NEWS24.CO.ID/RED/DEV