Saturday, 25 May 2019

Faisol Riza : Jokowi Menanggapi Isu Penculikan Aktivis di Masa Lalu

news24xx


Joko WidodoJoko Widodo

NEWS24.CO.ID - Faisol Riza, korban penculikan aktivis 1998, mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo atau Jokowi telah menanggapi suratnya tentang isu penculikan dan penghilangan aktivis pada tahun 1998. Riza mengklaim bahwa dia dipanggil untuk mengunjungi Istana Negara untuk membicarakan tuntutannya.

“Mereka berkomitmen untuk membantu keluarga para korban dalam menghadapi perjuangan sehari-hari dalam ekonomi dan pendidikan,” kata Riza Rabu, 13 Maret, di Hotel Grand Cemara, Jakarta.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebelumnya mengirim surat kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Bambang Soesatyo dan Presiden Jokowi, mengingatkan rekomendasi yang dikeluarkan oleh tim khusus dari kasus penculikan aktivis 1997/1998 yang disimpulkan dalam Rapat pleno DPR pada 28 September 2009.

Keempat rekomendasi tersebut adalah membentuk pengadilan hak asasi manusia , mencari korban, rehabilitasi dan kompensasi untuk keluarga korban, dan ratifikasi Konvensi Penghilangan Paksa. Riza menyebutkan bahwa pemerintah akan memenuhi permintaan.

Riza adalah satu dari sembilan aktivis pro-demokrasi yang selamat dari penculikan aktivis 1998. Yang lainnya adalah Mugiyanto, Aan Rusdianto, Andi Arief, Nezar Patria, Haryanto Taslam, Desmond J. Mahesa, Pius Lustrilanang, dan Rahardjo Waluyo Jati.

Setidaknya 13 aktivis masih hilang hingga hari ini, yaitu Wiji Thukul, Petrus Bimo Anugerah, Suyat, Yani Afri, Herman Hendrawan, Dedi Hamdun, Sony, Noval Alkatiri, Ismail, Ucok Siahaan, Yadin Muhidin, Hendra Hambali, dan Abdun Nasser .

Riza, Aan, dan Mugiyanto didampingi oleh beberapa kerabat untuk para korban penculikan dan penghilangan aktivis 1997/1998 menyatakan tidak memilih kandidat presiden Prabowo Subianto, yang mereka anggap sebagai pelanggar hak asasi manusia.

 

 

NEWS24.CO.ID/RED/DEV