Saturday, 25 May 2019

Banyak Kasus Gigitan Ular Berbisa, Membuktikan Bila Pemerintah Indonesia Kurang Siap

news24xx


Ular BerbisaUlar Berbisa

NEWS24.CO.ID - Ada 135.000 kasus gigitan ular di Indonesia setiap tahun, dan itu bisa menjadi bom waktu karena para korban sering memilih perawatan oleh dukun, kata seorang ahli. “Gigitan ular adalah salah satu dari 10 penyakit terbengkalai di Indonesia,” kata Tri Maharani, seorang dokter spesialis gigitan ular, selama sesi pelatihan perawatan gigitan ular di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan di Gunung Batu, Bogor, Jawa Barat, Kamis 2 Maret 2019.

Menurut Tri, sebanyak 27 kasus gigitan ular dilaporkan pada bulan Januari dan Februari 2019 saja.

“Saya menerima laporan dari fasilitas kesehatan regional dan rumah sakit, tetapi mungkin jumlah orang yang meninggal karena gigitan ular di hutan, jalan-jalan atau sawah tidak diketahui. Mungkin angkanya lebih tinggi dari ini, ”kata Tri.

Tri menambahkan bahwa banyak orang sering memilih untuk melihat dukun untuk mengobati gigitan ular dan bahwa hanya beberapa yang benar-benar pergi ke rumah sakit untuk menerima perawatan.

Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 70 jenis ular berbisa. Ular di sisi barat Indonesia mirip dengan yang ditemukan di negara-negara Asia lainnya, sedangkan ular di sisi timur kepulauan memiliki karakteristik yang sama dengan yang ditemukan di Australia.

Namun, katanya, Indonesia hanya memiliki satu jenis serum antivenom yang dapat digunakan untuk mengobati gigitan tiga ular beracun, yaitu raja kobra, ular beludak Malaya, dan krait biru.

Antivenom untuk Indonesia timur hanya dapat dibeli dari Australia seharga Rp 80 juta (USD 5.663) per bohlam.

“Sementara itu, saya mendapat sumbangan dari Myanmar untuk antivenom [didistribusikan di] Indonesia bagian barat,” kata Tri.

Tri mengatakan semua negara harus memiliki produsen antivenom bersubsidi.

Meskipun Indonesia juga memiliki pabrik antivenom, Indonesia tidak memproduksi cukup untuk memenuhi permintaan, sementara distribusinya tidak memadai.

“Pabrik antivenom di Indonesia hanya memproduksi 40.000 botol setiap tahun dan mendistribusikan obat ke beberapa rumah sakit. Setiap rumah sakit hanya dapat memiliki lima hingga 16 botol, karena harga untuk masing-masing botol cukup tinggi, yaitu Rp 700.000 hingga Rp 800.000, ”katanya.

“Produksi dan jenis antivenom harus ditingkatkan mengingat banyaknya jenis ular berbisa di Indonesia.”

 

 

NEWS24.CO.ID/RED/DEV