Sunday, 21 Apr 2019

Pemerintah Sulawesi Tengah Akan Membangun Taman Peringatan di Lokasi Gempa

news24xx


Gempa di PaluGempa di Palu

NEWS24.CO.ID - Pemerintah provinsi Sulawesi Tengah berencana untuk membangun taman peringatan di daerah yang terkena dampak pencairan tanah yang dipicu oleh gempa bumi di Palu dan Kabupaten Sigi untuk mengingat para korban.

Fenomena geologis menghantam Palu dan Sigi setelah gempa berkekuatan 7,4 dan tsunami berikutnya yang menghancurkan Sulawesi Tengah pada bulan September 2018.

Pencairan tanah adalah proses alami yang terjadi ketika tanah kehilangan kekencangannya saat tanah yang berat dan batu tenggelam, sementara tanah yang ringan dan pasir naik ke permukaan, sering kali sebagai akibat getaran yang dahsyat, terutama di daerah pantai. Saksi mata mengatakan "lumpur" bergulung-gulung seperti gelombang laut, memindahkan rumah-rumah di Kecamatan Petobo di Palu Selatan sejauh 700 meter dari lokasi aslinya.

Sebuah studi tahun 2012 oleh Badan Geologi Nasional menemukan bahwa beberapa daerah di Palu sangat rentan terhadap pencairan tanah. Korban yang memiliki rumah di daerah yang terkena dampak tidak diizinkan untuk kembali dan membangun rumah baru di daerah tersebut.

“Itu adalah zona merah. Orang-orang dilarang membangun rumah di sana, ”sekretaris administrasi Sulawesi Tengah Mohammad Hidayat Lamakarate mengatakan kepada The Jakarta Post, Senin.

Berdasarkan rencana induk baru yang dibuat setelah bencana, daerah-daerah yang terkena pencairan tanah, termasuk agen bandarq Petobo dan Balaroa di Palu dan Jono Oge di Sigi, akan direboisasi dan diubah menjadi ruang publik hijau di mana taman peringatan akan dibangun.

Pemerintah juga telah mendirikan situs-situs baru untuk membangun rumah-rumah baru bagi para mantan penduduk di daerah yang terkena bencana, kata Hidayat.

Di Palu, pemerintah akan mengembangkan daerah perumahan baru di berbagai kecamatan termasuk lahan seluas 80 hektar di Kecamatan Duyu dan lahan 82 hektar lainnya di Kecamatan Tondo. Sementara itu, sebidang tanah seluas 210 ha di Kecamatan Pombewe di Kabupaten Sigi akan ditransformasikan menjadi kota baru, sementara lokasi lain di berbagai kecamatan di kabupaten saat ini sedang dipelajari.

Anggota dewan dari Sulawesi Tengah, Matindas Janus Rumambi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) menyarankan pemerintah untuk tegas dengan keputusannya mengenai zonasi, sambil mendorong masyarakat untuk mematuhi instruksi pemerintah untuk tidak membangun gedung di daerah rawan bencana. zona merah.

"Kami tidak ingin lebih banyak korban karena keraguan dan ketidaktaatan," katanya.

Matindas menambahkan bahwa ekonomi juga pulih, karena orang-orang kembali ke pasar tradisional dan modern, sementara pusat kegiatan ekonomi lainnya seperti pusat transportasi bus dan kantor telah memulai kembali operasi.

Menurut pengamatan, sekitar 40.000 orang yang selamat dari gempa bumi, tsunami dan pencairan di Palu masih tinggal di tempat penampungan sementara di berbagai bagian Palu.

Korban pencairan di Balaroa mengatakan mereka menolak untuk pindah ke bangunan tempat tinggal sementara, juga dikenal sebagai huntara, dan sebaliknya meminta pihak berwenang untuk hanya membangun rumah permanen untuk mereka.

Salah satu korban, Agus Manggona, berpendapat bahwa pihak berwenang akan menghemat uang dengan langsung membangun rumah permanen daripada membangun rumah sementara sebelum membangun struktur permanen.

“Bayangkan saja, mereka membangun hunian sementara untuk kita maka kita harus menunggu dua tahun untuk mendapatkan rumah permanen. Ini waktu yang sangat lama, "katanya.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan melaporkan pada bulan Januari bahwa kementerian hanya menyelesaikan 217 dari 699 unit rumah sementara. Setiap unit terdiri dari 12 kamar berukuran 12 meter persegi.

 

 

 

NEWS24.CO.ID/RED/DEV