Monday, 25 Mar 2019

'Awan Tsunami' Tutupi Langit Makassar, Pesawat Terpaksa Putar-putar 20 Menit

news24xx


Awan berbentuk gelombang tsunami yang terpantau di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.  Awan ini sempat membuat aktivitas penerbangan jadi terganggu. Foto: int Awan berbentuk gelombang tsunami yang terpantau di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Awan ini sempat membuat aktivitas penerbangan jadi terganggu. Foto: int

NEWS24.CO.ID - MAKASSAR- Penampakan awan berbentuk gelombang tsunami di langit Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (1/1/2019) sore kemarin, langsung menjadi viral di media sosial.

Tak banyak yang tahu, awan tsunami itu juga ternyata berdampak terhadap aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Akibat awan itu, pesawat tidak bisa mendarat dan terpaksa harus berputar-putar terlebih dahulu. Bahkan ada yang masa putar-putarnya mencapai 20 menit. Setelah cuaca membaik dan awan tsunami itu menghilang, pesawat baru diperkenankan mendarat.



Read More : MUI Berencana Mengeluarkan Fatwa Haram Terhadap Permainan PUBG

Kondisi itu dibenarkan General Manager AirNav Indonesia Cabang Makassar Air Traffic Service Centre (MATSC), Novy Pantaryanto. Dikatakan, awan berbentuk gelombang tsunani tersebut disebut dengan awan kumulonimbus. Awan ini, terangnya, membahayakan bagi aktivitas penerbangan.

“Saat awan kumulonimbus itu, ada lima pesawat mengalami penundaan mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Sehingga, pesawat itu berputar-putar terlebih dahulu di atas sekitar 15 hingga 20 menit lalu mendarat setelah cuaca mulai membaik,” terangnya, Rabu (2/1/2019) seperti dilansir kompas.com.

Dikatakan, awan kumulonimbus merupakan awan yang sangat berbahaya bagi aktivitas penerbangan. Sebab di dalam gumpalan awan tersebut, terdapat partikel-partikel petir, es dan lain-lainnya yang sangat membahayakan bagi penerbangan.

Awan kumulonimbus inilah yang paling dihindari oleh pilot, karena di dalam awan itu juga terdapat pusaran angin.



Read More : Ini Tanggapan Anies Baswedan Setelah Dapat Kritikan Dari Leonardo DiCaprio

Meski demikian, pihaknya memiliki radar cuaca pada rute penerbangan. Alat ini bisa melacak kondisi cuaca hingga radius 100 kilometer. Sehingga, jika terlihat awan kumulonimbus pada radar, pihaknya langsung menyampaikannya dan pilot akan membelokkan pesawat hingga 15 derajat.

Biasanya, awan kumulonimbus berada di ketinggian 1.000 hingga 15.000 kaki. Sehingga untuk penerbangan 30.000 hingga 40.000 kaki, kondisinya aman. ***

NEWS24.CO.ID/RED/SIS