Wednesday, 14 Nov 2018

Kisah Tragis Para Korban Pesawat Lion Air, Tinggalkan Istri yang Sedang Hamil Hingga Tewas Bersama Istri dan Anak

news24xx


Wita, Gilang, and KyaraWita, Gilang, and Kyara

NEWS24.CO.ID - Penerbangan Lion Air JT610 merupakan penerbangan paling awal pada hari Senin. Itu adalah penerbangan yang sering diambil oleh orang-orang yang bepergian antara Jakarta dan Pangkalpinang, ibu kota Kepulauan Bangka Belitung. Kebanyakan yang menumpan di pesawat  yang jatuh ke Laut Jawa pada hari Senin kebanyakan adalah pegawai negeri yang ditempatkan di Pangkalpinang dan memilih untuk menghabiskan akhir pekan bersama keluarga mereka di Jakarta, sebelum kembali bekerja pada hari Senin berikutnya

Karyawan kantor pajak, yang berada di antara penumpang pesawat yang jatuh, sering kali naik pesawat tersebut sehingga dikatakan dengan nada bercanda bahwa mereka “membeli pesawat tersebut dengan angsuran”, berbagi pejabat kantor pajak.

Penumpang lainnya memilih penerbangan terebut untuk kembali ke kampung halaman mereka setelah mengunjungi orang tua mereka atau pergi berlibur akhir pekan di Jakarta, sementara yang lain naik pesawat untuk perjalanan bisnis cepat.
 

Berikut beberapa kisah dari keluarga dan teman-teman dari beberapa korban kecelakaan pesawat seperti dikutip dari The Jakarta Post. 


Paul Ayorbaba
Paul Ayorbaba, 43, adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan pelayaran yang berbasis di Jakarta, posisi yang sering memaksanya untuk meninggalkan istrinya, Inchy Ayorbaba, dan tiga anaknya di Jakarta. Putrinya, Finanda Naysyifa, 13 tahun, mengatakan ini adalah pertama kalinya ayahnya terbang ke Pangkalpinang untuk perjalanan bisnis.

"Dia biasanya berangkat ke Palembang atau Surabaya ketika dia pergi ke luar kota," katanya, Rabu. “Saya pikir ini adalah pertama kalinya dia pergi ke Pangkalpinang.”

Ibu Paul, Tiece Makalew, 69, mengatakan pada pagi itu, putranya pergi untuk mengurus bisnis dan mengirim dokumen ke kantor cabang perusahaannya di Pangkalpinang.

Dia ingat putranya sebagai pria yang penuh kasih dan lembut yang tidak pernah ragu untuk membela siapa pun yang mengancam kerabat terdekatnya. Penggila Real Madrid tersebut juga penggemar berat sepakbola dan berolahraga secara teratur. Paul adalah perenang yang baik, kata Nanda. Itulah mengapa dia berharap Paul selamat ketika mendengar bahwa pesawat itu jatuh ke laut.

"Saya yakin ayah bisa berenang keluar dan selamat dari kecelakaan itu," katanya. "Saya masih memegang janjinya bahwa dia hanya akan pergi selama dua hari."

 

M. Luthfi Nurramdhani
M. Luthfi Nurramdhani alias Upi, 24 tahun, berencana untuk langsung bekerja di kantor cabang Pos Indonesia di Pangkalpinang setelah ia berkunjung ke Jakarta untuk urusan pribadi selama akhir pekan. Selain kembali bekerja, kembali ke ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebut juga berarti bahwa ia akan bersatu kembali dengan istrinya yang sedang hamil, Karlina Setiaputri, 25 tahun, yang bekerja di Badan Narkotika Nasional (BNN).

“Lina meminta kepada atasannya agar dipindahkan ke Pangkalpinang agar dia bisa lebih dekat dengan suaminya,” kata Nabila Kariza, 25, teman dari Upi, pada hari Rabu.

"Mereka baru saja menikah pada bulan Januari."

Menurut Nabila, yang bersahabat dengan Upi ketika mereka masih mahasiswa di Sekolah Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran, di Bandung, Jawa Barat, mengatakan bahwa Upi adalah orang paling baik yang pernah ia temui karena ia tidak pernah ragu-ragu untuk membantu teman-temannya. "Ia selalu siap untuk membantu teman-temannya kapanpun ia diperlukan. Orang tua Upi sudah mulai menerima bahwa Upi mungkin tidak selamat dari kecelakaan itu," katanya.

"Mereka percaya Upi adalah seorang martir dan akan langsung menuju surga," katanya.

 

Wita, Gilang dan Kyara
Anshori, 55, menyalakan mobilnya beberapa menit setelah menerima telepon pada pukul 06:15 pagi dari putrinya, Wita Seriani, untuk memanaskan mesinnya sebelum berangkat ke Bandara Depati Amir, sekitar 30 kilometer dari Sungailiat, di mana dia dan keluarganya serta Wita, tinggal.

"Dia meminta saya untuk menjemputnya dan keluarganya di bandara setelah melakukan perjalanan dari Jakarta," katanya, Selasa.

Namun, ketika dia tiba di bandara pada pukul 8:30 pagi, tidak ada pemberitahuan bahwa Lion Air JT610 telah mendarat. Satu jam kemudian, seorang petugas maskapai penerbangan mendekatinya dan mengatakan kontrol lalu lintas udara telah kehilangan kontak dengan penerbangan dan dikhawatirkan telah menabrak laut.

Wita seharusnya kembali ke Sungailiat akhir pekan lalu setelah menghadiri acara dengan putrinya yang berusia 1 tahun, Kyara Aurine Daniendra Giwitri, dan suaminya, Gilang Perkasa Sanusi Putra, di Bengkulu.

Akhir pekan lalu, Anshori mengenang, atasan Gilang di perusahaan listrik milik negara (PLN) mengadakan acara ulang tahun perusahaan di Bengkulu, sehingga suaminya meminta istrinya yang bekerja sebagai dokter gigi dan putri mereka untuk bergabung dengannya di Bengkulu, di mana dia tinggal, untuk menghadiri acara tersebut.

Namun, setelah acara itu, Wita memberi tahu ayahnya bahwa mereka tidak mendapatkan tiket pesawat kembali ke Pangkalpinang. Saat itulah ia dan Gilang memutuskan untuk pergi ke Jakarta dan menginap di hotel selama akhir pekan sebelum mengejar penerbangan pertama ke Pangkal Pinang, sehingga ia dapat menghadiri upacara pengibaran bendera Hari Kemerdekaan di tempat kerjanya di Klinik Kesehatan Masyarakat Sungailiat.

Tribun Style melaporkan bahwa selama kunjungannya ke Jakarta, Wita dan keluarganya pergi berbelanja dan makan malam dengan sepupunya, Rara Margie, di pusat perbelanjaan Central Park di Jakarta Barat malam sebelum dia berangkat keesokan paginya.

“Kami makan sushi sampai kami kenyang dan berbelanja untuk banyak hal untuk Kyara,” tulisnya di cerita Instagram-nya pada hari Senin seperti dikutip Tribun Style.

“Kyara, ayo berkumpul bersama lagi. Kita berjanji semalam untuk pergi ke Singapura bulan Desember ini, ingat? ” ucapnya sambil menangis.

 

Bhavye Suneja
Bhavye Suneja, seorang warga New Delhi, India, meninggalkan kampung halamannya untuk berkarir sebagai pilot dan bekerja untuk maskapai penerbangan Lion Air di Jakarta. Selama bertugas di maskapai, Suneja telah memiliki lebih dari 6.000 jam terbang dan dikenal sangat akrab dengan pesawat Boeing 737.

Menurut profil Linkedin-nya, pilot berusia 31 tahun ini memperoleh lisensi pilotnya pada tahun 2009 dari Bel Air International Flight School di California, Amerika Serikat. Setahun kemudian, ia bergabung dengan Emirates Airlines sebagai pilot pelatihan selama empat bulan sebelum bergabung dengan Lion Air pada tahun 2011.

Dalam pernyataan yang diperoleh baru-baru ini, Suneja berpikir untuk kembali ke India dengan melamar pekerjaan di perusahaan penerbangan India terkemuka.

"Menjadi seorang pilot yang berpengalaman menangani Boeing 737 dengan catatan tanpa kecelakaan, kami ingin mengajaknya bergabung bersama kami karena kredibilitasnya yang bagus," kata seorang wakil CEO yang tidak disebutkan dari perusahaan penerbangan mana dalam pernyataannya. 

Istri Suneja, Garima Sethi, yang dinikahinya pada tahun 2016, tinggal di Jakarta. Tribunnews melaporkan bahwa Sethi meninggalkan pekerjaannya sebagai manajer keuangan di perusahaan media India, The Indian Express, untuk hidup bersama suaminya.

Pada hari Rabu sore, ayah Suneja mengunjungi Rumah Sakit Polisi Kramat Jati di Jakarta Timur untuk memberikan sampel DNA yang akan digunakan untuk mengidentifikasi jenazah putranya.

 

Rebiyanti dan Indra Bayu Adji
Ardiansyah, 30, tidak pernah menyangka bila saudara perempuannya, Rebiyanti, dan saudara iparnya, Indra Bayu Aji, berada di dalam penerbangan Lion Air JT610. “Saya tahu mereka ada di Jakarta, tetapi saya tidak berpikir mereka berdua akan menaiki pesawat,” katanya.

Rebiyanti, yang bekerja di pabrik peleburan di Pangkalpinang, melakukan perkawinan jarak jauh dengan suaminya, Indra yang bekerja di sebuah tambang di Kalimantan Timur.

Ketika ia berada di Palembang untuk urusan bisnis, Indra mengatakan kepadanya bahwa ia akan pergi ke Bandung, sehingga keduanya memutuskan untuk bertemu di Jakarta dan menghabiskan akhir pekan bersama di kota, dan meninggalkan putra mereka yang berusia 1 tahun dengan orang tua Rebiyanti.

Ardi mengatakan dia dan keluarganya tahu Rebiyanti dan Indra berada di Jakarta. Namun, mereka tidak memberi tahu siapa pun bahwa mereka berencana untuk kembali ke Pangkalpinang bersama. Itulah mengapa seluruh keluarga mereka terkejut ketika mengetahui bahwa Rebiyanti dan Indra berada di pesawat yang jatuh itu.

 

 

 

NEWS24.CO.ID/RED/DEV