Tuesday, 20 Nov 2018

Ketika Bisnis Penerbangan Tak Hanya Membuat Orang Terbang

news24xx


Foto : InternetFoto : Internet

NEWS24.CO.ID -  Jatuhnya pesawat Lion Air JT610 dari Jakarta ke Pangkalpinang di Bangka Belitung jelas merupakan iklan yang buruk bagi industri penerbangan Indonesia. Apa pun yang mungkin menyebabkannya, kecelakaan itu, yang dikhawatirkan telah merenggut nyawa semua penumpang yang berjumlah 189 orang, memberikan pukulan berat pada reputasi industri,  hanya empat bulan setelah Komisi Eropa (Komisi Eropa) membersihkan semua kapal induk Indonesia dari Daftar hitam Air Safety Uni Eropa.

Upaya bersama masih dilakukan untuk menemukan bagian-bagian pesawat Lion Air Boeing 737-MAX, penumpang dan awaknya serta kotak hitam di perairan Laut Jawa. Penggunaan perangkat berteknologi tinggi, termasuk yang disediakan oleh negara lain, diharapkan akan mempercepat operasi dan memberikan kepastian bagi keluarga korban kecelakaan sesegera mungkin.

Kecelakaan seperti itu akan semakin menyedihkan bukan hanya bagi keluarga korban tetapi juga seluruh bangsa jika komunitas internasional merespon negatif tragedi tersebut.

Pada tahun 2007, Amerika Serikat dan Uni Eropa melarang semua operator penerbangan asal Indonesia beroperasi di langit mereka karena gagal memenuhi standar keselamatan internasional, menyusul serangkaian kecelakaan yang melibatkan penerbangan yang disertifikasi di negara tersebut. Pada tahun-tahun berikutnya, perbaikan dilakukan dan satu per satu maskapai penerbangan Indonesia, termasuk Lion Air, mendapatkan kembali izin untuk terbang di atas AS dan Eropa.

Investigasi penyebab kecelakaan hari Senin memperbarui kekhawatiran bahwa maskapai penerbangan Indonesia belum cukup mampu untuk menangani standar keselamatan. Untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap keselamatan warganya, pemerintah Australia telah memperingatkan para pejabat dan kontraktornya untuk tidak terbang menggunakan maskapai Lion Air sambil menunggu temuan dari investigasi kecelakaan.

Masalah standar keselamatan adalah pertanyaan paling penting ketika menyangkut kecelakaan yang melibatkan moda transportasi.

Dalam industri penerbangan, kekhawatiran tersebut menjadi lebih relevan sejak maskapai penerbangan berbiaya rendah, termasuk Lion Air dan Air Asia, muncul sebagai pengubah permainan dalam bisnis. Tahun-tahun belakangan ini kita telah melihat apa yang disebut sebagai maskapai penerbangan berkembang dan memaksa para pemain yang mapan dan penuh layanan untuk meregangkan diri mereka sampai batas akhir.

Sejumlah operator bendera yang dulu terkenal, kini tidak dapat bertahan dalam persaingan ketat, tetapi maskapai berbiaya rendah justru semakin berkembang. Ada dugaan bahwa maskapai penerbangan yang menawarkan penerbangan murah menipu penumpang mereka dengan mengorbankan aturan keselamatan, seperti mengurangi pengeluaran pemeliharaan, meminimalkan pemeriksaan keseluruhan atau mengganti suku cadang dengan tingkat yang lebih murah.

Namun tuduhan semacam itu tampaknya tidak menemukan landasan yang kuat.

Beberapa maskapai penerbangan berbiaya rendah masuk ke daftar maskapai penerbangan dengan catatan keamanan terbaik di dunia. Dalam kasus Lion Air, sejak tahun 2002 ia telah mencatat setidaknya 20 kecelakaan, dengan dua di antaranya, kecelakaan di dekat Bandara Internasional Adi Soemarmo di Surakarta, Jawa Tengah, pada tahun 2004 dan yang terakhir pada hari Senin, 29 Oktober 2018 yang berakibat fatal.

Kasus ini kini sampai ke Komite Keselamatan Transportasi Nasional (KNKT) untuk menentukan penyebab kecelakaan hari Senin yang nahas tersebut.  Untuk mencegah kecelakaan, bagaimanapun, semua operator memikul tanggung jawab untuk memastikan keselamatan penumpang mereka. Itu tidak cukup  hanya untuk membuat orang terbang, seperti slogan Lion Air, We make people fly.

 

 

 

NEWS24.CO.ID/RED/DEV





Related News